Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Hukum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Sendi-Sendi Hukum Adat


A.           Pengertian Hukum Adat
Hukum adat pada dasarnya merupakan sebagian dari adat istiadat masyarakat. Adat- istiadat mencakup konsep yang luas. Sehubungan dengan itu dalam penelaahan hukum badat harus dibedakan antara adat-istiadat (non-hukum) dengan hukum adat, walaupun keduanya sulit sekali untuk dibedakan karena keduanya erat sekali kaitannya. Untuk mendapatkan gambaran apa yang dimaksud dengan hukum adat, maka perlu kita telaah beberapa pendapat sebagai berikut :[1]
1.      Prof. Mr. B. Terhaar Bzn
Hukum adat adalah keseluruhan peraturan yang menjelma dalam keputusan-keputusan dari kepala-kepala adat dan berlaku secara spontan dalam masyarakat. Terhaar terkenal dengan teori “Keputusan” artinya bahwa untuk melihat apakah sesuatu adat-istiadat itu sudah merupakan hukum adat, maka perlu melihat dari sikap penguasa masyarakat hukum terhadap sipelanggar peraturan adat-istiadat. Apabila penguasa menjatuhkan putusan hukuman terhadap sipelanggar maka adat-istiadat itu sudah merupakan hukum adat.
2.      Prof. Mr. Cornelis van Vollen Hoven
Hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku masyarakat yang berlaku dan mempunyai sanksi dan belum dikodifikasikan.

Senin, 26 Desember 2011

Ayat-Ayat Shaum


I.            PENGERTIAN PUASA
            Shiyam atau Shaum menurut lughah/bahasa, artinya : " Menahan diri dari melakukan sesuatu". Seperti firman Allah:1]

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya Aku Telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Menurut Syara', ialah :

الإمساك عن الأكل والشرب والجماع وغيرها مما ورد به الشرع "في النهار على الوجه المشروع" ويتبع ذاك الإمساك عن اللغو والرفث وغيرهما من الكلام المحرّم والمكروه في وقت مخصوص بشروط مخصوصة.[2]
“Menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan lain-lain yang telah diperintahkan syara’ kepada kita menahan diri padanya, sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan keji/kotor dan lainnya dari perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan pada waktu yang telah ditentukan serta menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan”.

Jumat, 23 Desember 2011

Waktu Shalat Menurut Syar'i


A.     PENGERTIAN SHALAT MENURUT SYAR’I
Shalat menurut terminologi berasal dari kata صلي- صلاة  yang berarti الدعاء  atau الدعاء بخير,[1] seperti firman Allah:

Dan doakanlah  mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[2]
Juga Hadist Rasulullah SAW:
عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إذا دعي أحدكم فليجب. فإن كان صائما فليصل، وإن كان مفطرا فليطعم".[3]
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Bila salah seorang kamu menerima undangan (yang didalamnya ada makanan), datangilah, bila sedang berpuasa, doakanlah kebaikan untuk yang mengundang, dan jika sedang tidak puasa, makanlah makanannya.”
Sedangkan menurut etimologi adalah:
التعبد لله تعالي بأقوال وأفعال معلومة, مفتتحة بالتكبير, مختتمة بالتسليم, مع النية, بشرائط مخصوصة.
“Shalat adalah bentuk penghambaan terhadap Allah SWT dengan  perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir kemudian di akhiri dengan salam, disertakan dengan niat dan sekaligus memenuhi syarat-syarat  yang ditentukan”.[4]                  
 B.     DALIL-DALIL SYAR’I TENTANG WAKTU PELAKSANAAN SHALAT
Ada beberapa teks Nash baik yang berasal dari al-Qur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Bila dalam al-Qur’an penetapan awal waktu shalat disebutkan secara implicit, maka di dalam Hadits Nabi, penetapannya secara eksplisit. Adapun beberapa teks tersebut adalah:[5]

Perencanaan Dalam Hukum Administrasi Negara


A.     Arti rencana dan perencanaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :”rencana” dan “perencanaan” artinya adalah sebagai berikut:[1]
Rencana, 1. Rancangan; buram (rangka sesuatu yang dikerjakan); kkerja; 2. Konsep, naskah (surat dan sebagainya); 3. Cerita; 4. Laporan pemberitaan (pers); catatan mengenai pembicaraan dalam rapat dan sebagainya); 5. Maksud, niat.
Perencanaan: proses, pertumbuhan, perbuatan, cara merencanakan atau merancangkan atau merencanakan.
            N. Rade dan De Smit sebagaimana dikutip oleh Ateng Syafrudin menerangkan defenisi sebagai berikut:[2]
§         Perencanaan adalah suatu proses integral dalam mempersiapkan dan merumuskan pengambilan keputusan di kemudian hari.
§         Perencanaan secara koorporatif merupakan suatu proses yang begsifat formal, sistematis, ilmu pengelolaan, yang disusun berdasarkan tanggung jawab, waktu dan informasi.
§         Perencanaan adalah merancang suatu hari depan yang diinginkan serta merancang cara-cara yang efektif, melalui hal tersebut dapat dicapai hari depan yang diinginkan.
Masih banyak lagi defenisi yang diberikan, tetapi beberapa pengertian tersebut diatas cukup menggambarkan ruang lingkup perencanaan pada umumnya.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Umar bin Khattab [13-23 H / 634 – 643 M]

Umar bin Khattab lahir pada tahun 583 M dari sebuah keluarga suku Quraisy. Pada masa mudanya ia adalah jagoan berkelahi yang terkenaldan seorang orator, serta orang yang bersemangat, ia salah seorang diantara orang di Mekkah yang kenal baca tulis sebelum Islam. Perkerjaan utamanya adalah berdagang.
Sebelum Umar bin khattab masuk Islam ia merupakan musuh Islam yang sangat kejam. Umar bin Khattab ingin bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW dengan sebilah pedang yang terhunus ditangannya, karena Umar bin Khattab mengetahui bahwa adik perempuannya masuk agama Islam beserta suaminya, ia menjadi marah terhadap mereka berdua dan ia bermaksud menyiksa mereka tetapi mendapatkan mereka sedang membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah, redamlah emosi Umar bin Khattab, setelah itu ia segera menemui nabi Muhammad dan mengatakan masuk Islam.

A. Pengangkatan sebagai Khalifah
Pada musim panas tahun 364 M Abu Bakar menderita sakit dan akhirnya wafat pada hari senin 21Jumadil Akhir 13 H/22Agustus 634 M dalam usia 63 tahun. Sebelum beliau wafat telah menunjuk Umar bin Khatab sebagai penggantinya sebagai khalifah. Penunjukan ini berdasarkan pada kenangan beliau tentang pertentangan yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Ansor. Dia khawatir kalau tidak segera menunjuk pengganti dan ajar segera dating, akan timbul pertentangan dikalangan umat islam yang mungkin dapat lebih parah dari pada ketika Nabi wafat dahulu.
Dengan demikian, ada perbedaan antara prosedur pengangkatan Umar bin Khatab sebagai khalifah dengan khalifah sebelumnya yaitu Abu Bakar . Umar mendapat kepercayaan sebagai khalifah kedua tiddak melalui pemilihan dalam system musyawarah yang terbuka, tetapi melalui penunjukan atau watsiat oleh pendahulunya (Abu Bakar).

Kamis, 04 Agustus 2011

MANAJEMEN BANK KONVENSIONAL DAN BANK SYARIAH

A. POLA MANAJEMEN BANK KONVENSIONAL
• Pola Dasar Manajemen Bank Konvensional
1. Perumusan kebijaksanaan
2. Perencanaan dan Pengembangan Organisasi
3. Staffing dan Managerial Skill
4. Pengawasan Internal
5. Sistem manajemen bank
6. Sound banking Business

Rabu, 03 Agustus 2011

Mengenal Bank Konvensional dan Syari’ah

A. PENGERTIAN BANK
    Masyarakat pada umumnya telah mengetahui bahwa bank itu adalah tempat menabung, menyimpan uang ataupun meminjam uang bagi masyarakat yang membutuhkan. Berikut akan disampaikan dua definisi bank, sebagai berikut:
a) Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, tentang Perbankan menyatakan: Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Rabu, 27 Juli 2011

Teori Gabungan Melakukan Tindak Pidana

Pokok persoalan dalam gabungan melakukan tindak pidana adalah mengenai bagaimana sistem pemberian hukuman bagi seseorang yang telah melakukan delik gabungan, sebagaimana dijelaskan dalam bab pertama bahwa dalam KUHP terdapat empat teori yang dipergunakan untuk memberikan hukuman bagi pelaku tindak pidana gabungan, yaitu:

Selasa, 05 April 2011

Kedudukan Anak Angkat & Orang Tua Angkat Terhadap Harta Warisan

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah haditsnya:
من أدعى إلى غير أبيه و هو يعلم إنه غير أبيه فالجنة عليه حرام
)متفق عليه(
Artinya :
“Barang siapa yang mengaku nasab selain pada ayah (kandungnya sendiri), padahal ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka baginya haram masuk surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

Minggu, 09 Januari 2011

Pendidikan Pada Masa Sahabat RA.

Pada Permulaan Islam pendidikan Islam dilakukan di Masjid-masjid atau di rumah-rumah. Metode yang dipakai dalam fase ini adalah hafalan. Pada permulaan islam perkembangan Ilmu Pengetahuan dibagi menjadi 3.
Pertama Gerakan Agama, menyangkut pembahasan tentang tafsir Quran, hadis, fiqh, akhlaq.
Kedua Gerakan tarikh, merupakan Gerakan untuk mengumpulkan data-data sejarah, kisah dan riwayat hidup.
Ketiga Gerakan Filsafat, merupakan gerakan dalam bidang mantiq, kimia, kedokteran dan ilmu lain yang berhubungan. Gerakan filsafat ini pada permulaan Islam tidak begitu meluas perkembangannya. Ilmu-ilmu dalam bidang ini berasal dari bangsa-bangsa lain (Romawi, Persia, Qaldan dan lain-lain). Pada akhirnya ketiga gerakan ini saling berhubungan dan saling membutuhkan, ahli tafsir akan membutuhkan ahli sejarah untuk mengetahui kehidupan nabi dalan menafsirkan hadis serta untuk mengetahui sebab turunnya ayat begitu juga dengan ilmu lainnya. Pada awal perkembangan Islam ini ilmu pengetahuan berpusat di Makkah, Madinah, Basrah dan Kaufah (Irak), Damaskus (Syam), dan Fusthat (Mesir).
Satu hal yang penting pada masa ini untuk mengawali studi tentang Islam yang intensif adalah dengan dibukukannya Al Quran pada masa Khalifah Abu Bakar. Atas desakan Umar ibn Khattab maka Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk untuk membukukan Al Quran. Upaya ini berlanjut sampai dengan kekhalifahan Usman bin Affan., yang kemudian terbentuk musyhaf Al Imam sejumlah 6 naskah yang ada di Kufah, Basrah, Makkah, Syam, Madinah dan 1 naskah ada pada Khalifah Usman sendiri.
Dalam ilmu tafsir, beberapa sahabat seperti Ali bin Abu Thalib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Masud dan Ubay bin Kaab menafsirkan Quran menurut apa yang mereka dengar dari Rasullullah saw. Para sahabat inilah yang dianggap sebagai pembina tafsir pertama dalam Islam, kemudian diikuti oleh tabiin seperti Said bin Jubair.

A .Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar Siddiq.
Beberapa kesulitan yang harus dihadapi oleh Abu Bakar Siddiq, diantaranya bnyak orang yang mengaku nabi dan juga banyak orang yang tidak mau membayar zakat disebabkan beberapa faktor:
1). Ajaran Islam belum dipahami benar
2). KeIslaman mereka bukan karena kesadaran melainkan karena politik dan ekonomi
3). Rasa kesukuan yang mendalam yang bertentangan dengan syariat Islam
Sikap tegas dan pasti dari kepeminpinan Abu Bakar menunjukkan adanya kepemimpinan yang jujur dan penuh dedikasi terhadap tugas kewajibannya. Sebelum Abu Bakar diangkat sebagai khalifah beliau dikenal sebagai seorang yang lemah lembut, berpendirian tetap, dan penyantun.
Sifat sifat demikian ini hanya dimiiki oleh seorang pemimpin, pendidik, dan bapak yang baik dan bertanggung jawab.

B. Pendidikan Pada Masa Umar Bin Khattab RA.
Semangat berdakwah dan pendidikan didaerah-daerah baru menunjukkan kekuatan yang sangat-sangat tinggi. Orang banyak datang ke Madinah kepada para sahabat. Khalifah Umar sendiri telah melarang sahabat-sahabat dekat Rasulullah untuk meninggalkan Madinah. Akan tetapi tidak berarti penyebaran Islam keluar Madinah terhenti, karena diantaranya ada juga sebagian sahabat yang diutus berdakwah dan mengajarkan agama Islam lebih giat.
Jika diperhatikan lebih mendalam pendidikan Islam pada masa beliau boleh dikatakan lebih berkembang dari sebelumnya diantaranya beliau mengangkat sebagai Gubernur atau Panglima adalah sahabat-sahabat Rasul yang benar-benar mahir dan ahli dalam bidang ilmu pengetahua.

C. Pendidikan Pada Masa Khalifat Usman Bin Affan.
Usaha kongkrit yang dilakukan usman dapat dikatakan tidak ada.mungkin Usman mennganggap bahwa kegiatan pendidikan sebelumnya sudah memadai. Jika ummat merasa kurang puas terhadap pendidikan agamanya, pasti mereka akan memintanya. Hal ini nyata terjadi dan dilaksanakan Usman takkala Hudzaifah Ibnul Yaman melaporkan bahwa ia telah menyaksikan adanya perselisihan yang hebat tentang bacaan Al-qur’an diantara ummat. Lantas Usman meminta kepada kepada Zaid Bin Tsabit untuk memimpin penyalinan mushaf tersebut bersama rekan-rekannya. Dengan cara ini akan menghilangkan sebuah perselisihan diantara ummat dalam membaca Al-qur’an.
Tugas mendidik dan mengajar ummat diserahkan pada ummat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat dan menggaji guru pendidik melainkan hanya mengharapkan keridhoan Allah semata.

D. Pendidikan Pada Masa Khalifah Ali Ibn Abi Thalib
Menurut Prof. Dr. Ahmad syalabi : ” Sebetulnya tidak pernah ada barang satu hari pun, keadaan yang stabil selama pemerintahan beliau. Tak ubahnya beliau sebagai seorang penambal kain usang, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Sudah demikianlah rupanya nasib beliau”
Demikian kehidupan pendidikan pada masa Khalifah Ali. Pendidikan yang berjalan hanya apa yang berlaku sebelumya dengan sarana yang sudah ada. Hanya motivasi dan dasar falsafah pendidikan, selain yang sudah ada dan telah dibina oleh rasulullah SAW juga tumbuh juga dasar motivasi dan falsafah pendidikan baru yang dibina oleh kaum Syiah dan Khawarij. Hal mana akan mengakibatkan bermacamnya pandangan dan paham yang menjadi dasar dan landasan cara berfikir yang lebih lanjut akan memberikan kesempatan untuk mencerai beraikan ummat dimasa yang datang.

Pendidikan Pada Masa Rasulullah SAW.

Sejarah pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam sejatinya telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam itu sendiri. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meneladani model-model pendidikan Islam di masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya. Alih-alih sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid.
Allah SWT berfirman :

"Allah akan mengangkat (kedudukan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Almujadilah :11)

Pada suatu hari Rasul Allah Muhammad SAW naik ke atas mimbar dan bertanya, "Bagaimanakah keadaannya jika ada kelompok masyarakat yang tidak mau mendidik dan mengajarkan ilmu kepada tetangganya, mereka tidak mau saling menasihati, tidak mau mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan dan mencegahnya dari kejahatan? Bagaimanakah keadaannya jika suatu kelompok masyarakat tidak mau belajar dari masyarakat disekitarnya, tidak mau menerima nasehat atau anjuran dari tetangga?
Kemudian Rasulullah bersabda lagi:
"Demi Allah hendaklah kamu sekalian menjadi masyarakat yang selalu mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan pada masyarakat disekitarnya, menjadi penganjur kebaikan, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan mencegah mereka dari perbuatan munkar.Dan hendaklah kamu sekalian menjadi kelompok masyarakat yang selalu belajar dari pengetahuan masyarakat yang lain, menerima nasehat dan anjuran yang baik dari mereka.Jika hal demikian tidak kamu laksanakan maka akan datang kepadamu masa kehancuran yang sangat cepat.( H. R. Thabrani).

Demikian amanat tersebut disampaikan Rasulullah kepada ummatnya, agar ummat Islam memperhatikan masalah pendidikan. Awal terjadinya pendidikan Islam adalah semenjak Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah di kota Makkah. Beliau adalah guru yang pertama dan beliau adalah pendidik teladan dalam sejarah pendidikan ummat sehingga seandainya dunia modern saat ini dipimpin seorang seperti nabi Muhammad, maka dunia ini akan berhasil memecahkan permasalahannya yang sangat diperlukan bagi perdamaian dan kebahagiaan manusia.

Masyarakat Makkah pada waktu Rasulullah dilahirkan dikenal dengan masyarakat jahiliyah atau juga disebut zaman jahiliyah. Dalam sejarah Islam kita baca bahwa Rasulullah pada waktu pertama kali berdakwah membentuk kelompok pengajian, mula-mula disebuah bukit diluar kota Mekah, kemudian berpindah ke rumah Al Arqam bin abi Arqam. Pengikut pengajian tersebut menjadi manusia teladan yang terkenal dengan nama Assabikunal Awwalun (orang yang mula-mula menyambut seruan Rasul). Sebelum abad II H. di seluruh pelosok territorial Islam telah berdiri sekolah (kuttab) tempat mengajar anak-anak dan madrasah tempat belajar orang dewasa. Disamping itu mesjid-mesjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan ummat dan perpustakaan penuh dengan buku dari seluruh cabang ilmu pengetahuan.

1. Pendidikan Perorangan Yang Dilakukan Secara Rahasia.

Setelah Rasulullah menerima wahyu pertama (96:1-5), beliau masih belum bergerak,hatinya masih bimbang dan ragu akan apa yang telah beliau terima itu. Kepada istrinyalah beliau mengadukan persoalannya itu hingga kemudian Khadizah membawanya kepada Waraqah Ibnu Naufal untuk memperoleh keterangan tentang persoalan Nabi tersebut. Waraqah adalah seorang nasrani,dandia telah menulis injil.dengan pengetahuannya itu waraqah menjelaskan bahwa yang datang itu adalah Namus (malaikat Jibril) yang pernah diutus Allah pada Nabi Musa. setelah mendapatkan keterangan itu hati Nabi menjadi tenang.

Sikap Nabi yang bimbang dan ragu tentang kebenaran itu dipandang dari segi filsafat adalah wajar, bukan hal yang wajar. Keraguan adalah jalan menuju kebenaran yang pasti. Hal serupa jelas telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS seperti termaktub dalam Al qur’an :

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata : ”Ya Tuhanku,perlihatan kepadaku bagaimana engkau menghidupkan orang yang telah mati.
”Allah berfirman : ”Apakah kamu belum percaya? ”Ibrahim menjawab : ” Saya telah percaya,akan tetapi akan bertyambah tetap hati saya ”.(QS Al baqarah:260)

Beberapa lama kemudian turunlah wahyu ke dua dimana Allah berfirman:


“Hai orang yang berselimu, Bangun dan beri ingatlah Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Jauhilah perbuatan dosa. Janganlah engkau memberi karena hendak mendapat balasan banyak. Hendaklah engkau bersabar karena tuhanmu.”(QS Al Muddatstsir:1-7)

Ayat inilah mula-mula memerintah Rasulullah menyeru kepada agama Allah. Menyeru berarti mengajak, dan mengajak berarti mendidik. Usaha beliau menyampaikan perintah Allah itu tidak sembarangan akan tetapi diperhitungkan benar-benar siapa yang akan menjadi sasaran seruannya itu. Abu Bakar sebagai bangsa quraisy sangat melekat dan tertarik akan pribadi Muhammad sejak lama. Dengan kebijaksanaan dan kepribadian yang dimiliki Abu Bakar, eruan Nabi itupun disampaikannya pula kepada orang-orang quraisy dan berhasil dengan baik.

Pendidikan yang pertama dilakukan oleh Nabi pada saat ini adalah merupakan pembentukan pribadi muslim yang dibina untuk menjadi kader-kader muslim yang bersemangat, memiliki jiwa dan mental yang kuat serta tangguh dari segala cobaan. Proses pendidikan ini merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah islam. Prof. Dr. A. Syalabi mengatakan : ” Dia adalah satu tujuan yang nyata diantara tujuan-tujuan yang telah dilaksanakan oleh Islam, bahkan yang telah dilaksanakan dengan segera, ialah merubah seorang arab menjad seorang muslim, tetapi lebih dalam dari itu. Yaitu : Islam telah berhasil merubah seorang arab secara keseluruhannya, hingga seolah-olah Islam menciptakan orang itu sebagai makhluk yang baru.”

Cara yang dipakai oleh Rasulullah dalam memberikan pendidikan dan pelajaran kepada para sahabatnya itu dengan ceramah, menyampaikan wahuyu yang baru di terimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya, berdialok dan berdiskusi atau tanya jawab tentang sesuatu yang bersangkutan dengan aqidah ataupun tentang muamalah dan ibadah. Kurikulumnya adalah Al-qur’an, karena itu dalam prakteknya tidak saja logis dan rasional, tapi juga secara fitrah dan pragmatis,-
sehubunagan dengan Al-qur’an itu sendiri diturunkan secara berangsur-angsur menurut kebutuhan yang diperlukan kaum Muslimin pada saat itu.
Hasil dari cara demikian itu dapat dilihat dari sikap rohani dan mental para pengikutnya yang dipancarkan kedalam sikap hidup yang bermental dan semangat yang tangguh,tabah dan sabar tapi aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Dalam perkembangan sejarah selanjutnya ternyata mereka ini merupakan kader inti muballigh dan pendidik pewaris Nabi SAW yang brillian dan militant dalm menghadapi segala tantangan dan cobaan yang dihadapi.

2. Menyeru dan Mengajak Bani Abdul Muthalib ke dalam Islam.

Setiap langkah dan kegiatan Nabi dalam menyeru dan mengajak umat manusia kepada Islam adalah sesuai dan menurut rencana dari Tuhan. Setelah turun wahyu:


“Dan beri ingatlah kepada kerabat kerabat-kerabatmu, dan rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang pengikutmu, yaitu orang-orang yang beriman. ” (QS Al syu’ara : 214-215).

Seruan dan ajakan Nabi ini disambut dan dibenarkan dengan baik oleh sebagian mereka dan sebagian lagi menentangnya.Tahap ini adalah tahap permulaan secara terang-terangan.

3. Seruan dan ajakan umum.

Setelah ajaran dan seruan yang disampaikan kepada bani abdul muthalib tidak memperoleh hasil seperti ynag diharapkan, maka Nabi pun beserta para sahabatnya meningkatkan kegiatan usahanya beiau telah mulai operasi dakwah terbuka, siapa saja diseur kepada Islam. Seruan beliau itu tidak lagi terbatas kepada orang-orang makkah atau quraisy tetapi secara universal terutama pada kesempatan musim haji.

Setiap musim haji, Rasulullah mengunjungi kemah-kemah jama’ah guna untuk menyeru mereka kepada ajaran Islam. Dengan Islamnya mereka itu sinar kemajuan Islam mulai memancarkan harapannya. Peristiwa ini merupakan titik balik misi Nabi Muhammad SAW. Kini beliau mempunyai tumpuan harapan yang cerah dari ummatnya yang telah memiliki kesiapan mental untuk menerima dan menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam di negerinya.

Rabu, 17 November 2010

Westernisasi dan Rekontruksi Islam

Pada awal abad 19 kekhalifahan islam yang telah terkonsep dan tersusun rapih berabad-abad silam berubah menjadi bentuk republik islam, organisasi dan kelompok oposisi ilegal serta gerakan-gerakan islam, mulai dari mesir sampai Pakistan, yang ikut terlibat dalam aktivisme sosial dan politik, serta berpartisipasi dalam kelangsungan negara dan masyarakat islam majmuk.,

Dunia mengklaim terhadap bentuk negara islam seperti arab Saudi dan iran sebagi negara pembentuk dan penggodok teroris yang selama ini menghantui keamanan internasional. Padahal yang selama ini menjadi realita adalah mereka yang berteriak teroris adalah teroris yang sebenarnya dan masyarakat dunia hendaknya mengetahui hal ini.

Sebagai generasi muslim kita telah maklum bahwa masyarakat dunia bukan masyarakat yang bodoh dan mudah untuk dikendalikan. Moncong senapan api belaras panjang milik musuh-musuh islam sudah siap dihadapan kita untuk memuntahkan peluru apinya. Umat islam dipalestina misalnya, mereka tak bisa berkutik untuk melawan dan hanya pasrah kepada sang ilahi yang membuat mereka bertahan hidup sampai sekarang.

Kita tidak usah berpanjang lebar membicarakan itu. Karena yang paling penting adalah bagaimana masyarakat muslim bersama-sama melawan pengaruh-pengaruh kesesatan westernisasi yang telah ditanamkan kaum barat selama ini. Karena fakta yang ada adalah generasi muslim kurang bisa memilah mana yang bisa dimanfaatkan dari westernisasi yang telah ada untuk kemajuan islam dan mana yang haru dicampakkan, serta kebayakan dari mereka lebih terpengaruh dengan system a moril barat yang cenderung merugikan dab menyesatkan.

Sebuah tugas besar bagi muslim dunia untuk mengembalikan ajaran islam yang sebenarnya dan menata hidup kita sebenarnya, seperti yang termaktub dalam alkitab dan asssunah. Akan tetapi apakah kekhalifahan islam yang telah roboh akibat imperalis barat dulu akan berdiri kembali ataukah islam bangkit dengan wajah baru?. Pertanyaan seperti ini yang harus kita perhitungkan bagi generasi muslim karena yang telah kita maklumi bahwa imperalis barat dan westernissasi yang selama ini telah menggerogoti islam majmuk tak bisa dielakkan lagi dan sekarang telah merayap melalui aliran darah setiap muslim dipenjuru dunia.

Yang harus kita garis bawahi adalah kita jangan terlalu terbawa dengan emosional untuk segera merealisasikan hal tersebut, toh penegakan syariat islam tak harus dengan geraka-gerakan yang faktatif. Karena yang perlu kita tekankan bagaimana islam berjalan dari berbagai aspeknya baik itu dalam politik, sosial dan kemasyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi (islam kaffah) tanpa adanya system kekhalifahan atau yang telah kita miliki dahulu.

Dikawasan timur tengah, misalnya Saudi Arabia dan iran yang mengaku negaranya berbentuk atas dasar islam akan tetapi dari berbagai aspek mereka kecolongan dengan negara-negara yang berasaskan sekuler seperti mesir. Arab Saudi yang selama ini diklaim sebagai satu-satunya negara islam yang berlandaskan atas islam kaffah ternyata moral masyrakatnya dekat sekali dengan kata mengecewakan dan mempermalukan islam sendiri.

Seperti yang telah disampaikan tadi bahwa mesir satu contoh kongkrit wujud penerapan islam kaffah. Masyarkat yang majmuk, yang terdiri dari berbagi golongan, ras, suku dan budaya serta agama mampu menjaga hubungan harmonis antara masyarakat satu dengan yang lain bahkan rasa saling menghargai dan menghormatinya terjaga rapih. Padahal dibandingkan dengan negara-negara timur tengah yang lain mesir mempunyai beban peradaban yang berat karena berbagi transisi kebudayan dan agama terjadi disini. Peradaban romawi kemudian kekhalifahan islam dan akhirnya kekhalifahn islam roboh, kemudian digantikan imperalis dan westernisasi yang ujungnya menjadi negara yang berfaham sekuler. Dengan berbagi timpang tindih peradaban seperti itu ternyata mesir bukanlah negara yang rapuh, negara yang mudah terpengaruh dengan kebudayaan-kebudayaan baru yang silih berganti, akan tetapi mesir telah menjadi negara yang mampu menyelaraskan ketimpangan-ketimpangan yang ada, malahan Mesir sendiri mampu mengambil beberapa hal penting yang terjadi pada ketimpangan-ketimpangan yang ada. Westernisasi progresif dan sekulerisasi masyarakat yang telah diterapkan mampu memberikan hal yang lebih dalam kemajuan negara ini dan tanpa mengurangi pemberlakuan syariat yang ada.

Tidak hanya mesir yang melakukan hal seperti ini, meskipun arab Saudi muncul sebagai negara islam dan memproklamsikan dirinya sendiri, mayoritas negara muslim berusaha membangun negara modern dengan paradigma barat yang diperlunak dengan undang-undang ad hoc, seperti pesyaratan bahwa kepala negara harus seorang muslim atau penetapan syariat(hukum islam) sebagai sumber hukum, terlepas dari apakah hukum tersebut sesuai.

Namun demikian tak berlangsung lama, wajah luar yang ditampilkan negara-negara tersebut mulai retak. Six days war antara Arab-israel pada tahun 1967 memperlihatkan kekalahan telak gabungan pasukan Arab dengan Israel dan hilangnya beberapa kota penting di Palestiana bahkan Yerusalem yang sebagai kota suci ketiga islam pun jatuh ketangan kaum Yahudi atau perang sasudara Pakistan dan Bangladesh yang sama-sama negara muslim membuat nasionalisme muslim terpecah belah.

Dengan kejadian-kejadian yang ada dunia islam, pihak-pihak yang merasa kecewa mulai mengkaji ulang tentang nasib mereka kedepan. Mengapa masyarakat dan negara muslim yang baru merdeka mandul, otoritan, miskin, buta huruf dan korup? Mengapa, terlepasa dari sekutu dan model pembangunan barat yang mereka terapkan masih membuat lemah dan rapuh?.

Pemikiran-pemikiran seperti ini yang harus ditiadakan dari dunia islam. Melihat hal ini, mereka kaum barat akan berbangga ria dengan westernisasi yang mereka lakukan selama ini. Melihat kaum muslim hancur, rapuh dan patah semangat serta hanya bisa meratapi kegagalannya tanpa ada gebrakan baru yang membuat mereka bangkit dari kesemua itu. Apalagi gerakan westernisasi yang secara mendasar telah melakukan upaya pengubahan berbagai pemahaman islam didunia, memisahkan antara umat islam dari sejarah masa lampau dan kejayaan mereka, dan usaha untuk melenyapkan sisa-siasa kejayaan islam juga disertai dengan penanaman keraguan-keraguan, menyebarkan syubhat seputar masalah agama, bahasa, sejarah, alam pemikiran, pemahaman secara menyeluruh bisa dikatakan sebagai kesuksesan besar bagi mereka dan hal ini merupakan bencana besar bagi umat islam dunia.

Ada sebuah catatan kecil yang ditulis oleh seorang kristiani tua yaitu raja prancis, lois kesembilan saat dipenjara di al-Manshuroh setelah kekalahan bala tentaranya pada perang salib kedua, catatan itu berisi tentang sikap terhadap dunia islam usai perang salib. Lois kesembilan itu dalam catatannya menyinggung bahwa satu-satunya jalan menguasai kaum muslimin bukanlah melalui perang dengan power. Sebabnya adalah muslim punya perangkat jihad fi sabilillah. Perang melawan muslim harus dimulai dengan merusak akidah mereka yang sudah berurat akar dan segera dipisahkan antara akidah dan syariat.

Dari perhelatan panjang yang telah penulis sampaikan tadi dapat dipetik beberapa hal yan seharusnya kita umat muslim menyadari bahwa yang telah kita alami dalam beberapa kurun terakhir ini adalah hasil dari target agung mereka untuk merobohkan islam dan perlu digaris bawahi juga mereka mengorek akidah dan syariat kita dengan diam-diam dan kita tak pernah menyadari hal itu. Apakah kita akan diam menghadapi kenyataan yang ada dan bagaimanakah kita menyikapinya?.

Secara garis besar kita telah kecolongan, namun kini saatnya bagi kita memutar balikan fakta yang ada. Kita tak akan lagi menjadi konsumen produk-produk kesesatan westernisai tapi kita akan memproduksi hasil produksi westernisasi tersebut menjadi hal lain yang tentunya menjadi sebuah produk yang diselaraskan dengan akidah dan syariat islam didalamnya yang nantinya produk tersebut akan kita hadiahkan kepada umat muslimin dunia untuk meghidupkan kembali akidah dan syariat islam yang hampir terkubur oleh waktu dan peradaban barat.

Dengan kondisi peradaban seperti ini tentunya kita harus mempunyai good strategy untuk merealisasikan islam yang sesungguhnya agar akidah dan syariat islam bisa ditegakkan walaupun tanpa mengubah system pemerintahan dunia yang telah ada. Kita tidak usah berpusing ria untuk mengrekonruksi ulang kekhalifahan islam yang telah tiada akan tetapi, merekontruksi islam sesungguhnya dalam setiap muslimlah yang harus kita hidupkan.




Senin, 15 November 2010

PERGURUAN TINGGI ISLAM ASIA TENGGARA DI ERA GLOBALISASI

Membangun Jaringan Untuk Menghadapi Tantangan

Oleh :

Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA

Disampaikan Pada Seminar Internasional

“Prospek Pendidikan Tinggi Islam Asia Tenggara di Era Globalisasi”

Kerja Sama Kopertais Wil. IX dan

Southeast Asian Forum For Islamic Higher Education

Tanggal, 7 Nopember 2009

Medan-Indonesia

Dunia telah menjelaskan kepada seluruh komunitas umat manusia bahwa ilmu pengetahuan berada pada posisi yang sangat tinggi, sehingga posisioning ilmu pengetahuan tersebut berimplikasi pada dua hal. Pertama, posisi orang yang terdidik berada pada tempat yang strategis dalam pengembangan masyarakat dan peningkatan martabat mereka. (QS 35/Fathir : 58/al-Mujâdalah : 11)

Fakta-fakta sejarah bercerita bahwa kebangkitan umat manusia di Yunani kuno didorong oleh kegiatan pengembangan pengetahuan dan filsafat. Pendidikan penelitian dan eksperimen telah melahirkan gelombang perubahan di zaman keemasan Islam. Modernitas dan kemodernan dunia tersembul di Barat karena didorong oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi berbasisi pendidikan. Maka jika bagian dunia lain ingin mengupayakan perubahan besar dalam perkembangan peradaban, haruslah berbasis pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian pemberdayaan dunia pendidikan.[1]

Kedua, posisi ilmu pengetahuan yang strategis tersebut menyebabkan posisi segala kegiatan pendidikan menjadi sangat strategis pula. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan dalam pengertian yang luas, yaitu setiap usaha dan aktivitas untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada orang lain untuk memanusiakan manusia yang berkualitas prima yang dilakukan dengan cara pencerahan, perberdayaan, pemberadaban, serta pengimanan.

Salah satu unsur pendidikan Islam yang sangat penting dan berpengaruh adalah perguruan (pengajian) tinggi. Sebab disinilah ilmu pengetahuan dikembangkan secara advance, dan menemukan metode konkritisasinya dalam pengembangan kehidupan dan peradaban. Untuk itu peran perguruan tinggi Islam menjadi salah satu diskursus yang sangat penting dalam membicarakan globalisasi dunia dan dampaknya bagi kehidupan umat manusia di Asia Tenggara.

Kalau kesiapan perguruan tinggi Islam menghadapi abad 21 diperbincangkan secara serius, tempaknya memang sangat relevan, mengingat abad mendatang itu -- seperti yang telah kita rasakan saat ini -- sangat kompetitif, global, dan sering kali penuh nuansa krisis dan keguncangan. Sehingga semua lembaga perlu mengaca diri, sejauh mana ia memiliki kesiapan ( konsep, SDM, dan mental ) untuk memasukinya. Artinya, hendaknya sebuah lembaga tidak hanya memiliki modal “alif, ba, ta” saja dalam memasuki dunia global itu.

Perguruan tinggi Islam di Asia Tenggara memiliki keniscayaan mempersiapkan diri untuk berperan dan menjadi penuntun utama bagi perkembangan masyarakat dalam globalisasi itu. Sebab perguruan tinggi merupakan unsur penting dari empat penggerak utama globalisasi itu, disamping perbankan dan manufacture.[2]

Peran Pencerahan Perguruan Tinggi Dalam Pergaulan Global

Pergaulan global yang didorong oleh revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi informasi tealah membawa dunia kepada situasinya yang mengglobal dengan cirinya antara lain: Pertama. Terjadi pergeseran dari konflik ideologi dan politik ke arah persaingan perdagangan, investasi, dan informasi; dari keseimbangan kekuatan (balance of power) ke arah keseimbangan kepentingan (balance of interest).

Kedua. Hubungan antaranegara/bangsa secara struktural berubah dari sifat keteragantungan (dependency) ke arah saling tergantung (interdependency); hubungan yang bersifat primordial berubah menjadi sifat tergantung kepada posisi tawar (bargaining position).

Ketiga. Batas-batas geografi hampir kehilangan arti operasionalnya. Kekuatan suatu negara dan komunitas dalam interaksinya dengan negara (komunitas lain) ditentukan oleh kemampuannya memanfaatkan keunggulan komparatif (comparative adavantage) dan keunggulan kompetitiv (competitiv adavantage).

Keempat. Persaingan antarnegara sangat diwarnai oleh perang penguasaan ilmu pengetahuaan dan teknologi tinggi.Setiap negara terpaksa menyediakan dana yang besar bagi penelitian dan pengembangan.

Kelima. Terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, efisien, tidak menghargai nilai dan norma yang secara ekonomi dianggap tidak efisien.[3]

Selain mendatangkan berbagai kegunaan, kemudahan, kenikmatan, dan kenyamanan hidup, globalisasi dunia juga menyuguhkan efek samping yang membuat masyarakat memerlukan pencerahan, advokasi, dan pendampingan dari perguruan tinggi sebagai lembaga paling bertanggung jawab untuk menghilangkan kegamangan masyarakat dalam menapaki jalan hidup mereka di dalamnya. Dampak negatif tersebut di antaranya. Pertama. Pemiskinan nilai spiritual. Tindakan sosial yang tidak mempunyai implikasi materi (tidak produktif) dianggap sebagai tindakan yang tidak rasional.

Kedua. Kejatuhan manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, nafsu hayawaniyyah menjadi pemandu kehidupan. Ketiga. Peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedangkan urusan dunia menjadi wewenang sains (sekularistik). Keempat. Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, dan tulisan, tetapi tidak hadir dalam prilaku dan tindakan.

Kelima. Gabungan ikatan primordial dengan sistem politik modern melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme. Keenam, Individualistik. Seseorang bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Ikatan Keluarga dianggap sebagai lembaga yang teramat tradisional.

Ketujuh. Terjadinya frustrasi eksitensial (existential frustration) dengan ciri-cirinya: (1) hasrat yang berlebihan untuk berkuasa (the will to power), bersenang-senang mencari kenikmatan (the will to pleasure), yang biasanya tercermin dalam prilaku yang berlebihan untuk mengumpul uang (the will to money), untuk bekerja (the will to work), dan kenikmatan seksual (the will to sex). (2) kehampaan eksistensial berupa perasaan serba hampa, tak berarti hidupnya, dll. (3) neurosis noogenik; perasaan hidup tanpa arti, bosan, apatis, tak mempunyai tujuan, dan sebagainya.[4]

Kedelapan. Manusia akan menghadapi tantangan globalisasi nilai. Pada sisi lain bisa pula mengalami kecemasan informasi; orang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, tetapi belum tentu mampu mengelolanya dengan baik. Terjadinya ketegangan-ketegangan: informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin, konsumeris, dan kekurangan, dan lain-lain.

Sebenarnya informasi global yang melanda dunia saat ini kebanyakan merupakan produk negeri-negeri maju. Informasi yang datang sampai ke kamar-kamar tidur kita (melalui tv, internet, dan sebagainya) berasal dari negeri-negeri Second Wave (masyarakat industrial) atau Third Wave (masyarakat Informatika). sementara kita penerimanya, masih ke banyakan berada pada tahap First Wave (masyarakat agraris), bahkan masih ada warga kita yang belum masuk zaman agraris.

Kesembilan. Sebagian orang terutama generasi muda kehilangan kreativitas, karena kenikmatan kemajuan. Sehingga apabila muncul tantangan, mereka akan mengalami keterkejutan.[5]

Pendidikan Islam Sebagai Agen Perubahan dan Pencerahan

Berbicara mengenai pendidikan Islam di tengah dunia yang sedang mengalami globalisasi, maka poros pembicaraan adalah bagaimana memberdayakan manusia di era global mealalui pendidikan dengan tetap berpegang teguh pada agaama mereaka.

Kehidupan global adalah hal yang tidak dapat dihindari, dan memang tidak perlu untuk dihindari. Seperti pernah ditulis Akbar S. Ahmad :

Abad ke-21 tidak dapat memandang rendah Islam, karena Islam tetap merupakan suatu kekuatan tersendiri. Sebaliknya, Islam pun harus menerima abad ke-21. Sikap menolak bukanlah jalan keluar yang tepat. Dengan kata lain Islam harus akrab dengan abad-21. Dengan cara itu Islam pun akan memperoleh keharmonisan dalam tubuhnya sendiri.[6]

Bertitik tolak dari gagasan pembangunan pendidikan Islam di Asia Tenggara, maka yang menjadi persoalan adalah bagaimana memberdayakan umat Islam mealalui pendidikan agar turut mewarnai budaya global, jika bukannya memimpinnya. Untuk itu peran pendidikan Islam sangat signifikan dalam memberi bekal kepada umat manusia untuk dapat bergerak lincah di kancah globalisasi tersebut.

Dalam perspektif ini maka tujuan pendidikan Islam dapat dilihat antara lain. Pertama. Tujuan Individual yang meliputi: (1). Meningkatkan upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan tehknologi, agar anak didik memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di kancah global. (2). Menyemai perkembangan yang seimbang bagi setiap individu dengan menyuburkan potensi fitrah beragama, fisik, intelektual, emosi, moral, dan estetika. (3). Melembagakan studi masa depan pada institusi-institiusi pendidikan Islam di Asia Tenggara dan menginternalisasikannya pada diri setiap insan pendidikan. Hal ini penting, mengingat bahwa salah satu faktor penyebab umat Islam sering terbelakang adalah orientasi mereka yang selalu terpokus pada masa lalu. (4). Menghilangkan pandangan dikotomis mengenai ilmu pengetahuan dan kehidupan. (5). Mengakses puncak piramida revolusi informasi, dan jika mungkin memimpin proses penggunannya. (6). Pendidikan Islam haruslah diorientasikan untuk meyakinkan umat Islam bahwa kemajuan yang dicapai umat manusia saat ini adalah milik bersama umat manusia, dimana umat Islam turut memiliki kontribusi di dalamnya. (7). Melakukan revitalisasi dan modernisasi dalam agama pada berbagai aspeknya, serta menjadikan aspek paling dinamis dari agama Islam menjadi standart keberagamaan umat Islam.

Kedua. Tujuan Ekonomi, yaitu untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas perancang dan pelaksana yang cakap, rasional dan bertanggung jawab untuk memberdayakan diri sendiri, dan memberikan kontribusi bagi pemberdayaan masyarakat, serta kemajuan bangsa dan negara.

Ketiga. Tujuan Politik. Orientasi pendidikan disini adalah membangun individu yang memiliki nasionalisme, setia kepada negara, memiliki patriotisme, serta sadar akan hak dan tanggung jawabnya kepada negara dan bangsanya.

Keempat. Tujuan Sosial, yang meliputi: (1). Menegaskan makna dan hakekat nilai kemanusiaan dan kehidupan manusia. (2). Memberikan daya banding kepada umat Islam agar mereka tidak gugup atau kaget berhadapan dengan kehidupan modern. (3). Menampilkan keberagamaan yang lebih sejuk dan ramah, berdasarkan pemahaman terhadap nilai-nilai universal yang diajarkan Islam dan teologi inklusif yang diperankan Nabi Muhammad saw. Sengan begitu maka corak keberagamaan (religiositas) yang perlu dikembangkan adalah ‘cara beragama moderat’.[7](4). Pendidikan Islama di Asia Tenggara hendaklah menumbuhkan kepercayaan diri umat Islam. (5). Menghilangkan teologi kemiskinan dari tubuh umat Islam. (6). Menumbuhkan Ukhuwah Islamiyah yang lebih universal dan produktif serta mencakup berbagai segi kehidupan umat Islam. Hasl ini penting mengingat bahwa ukhuwah islamiyah di Asia Tenggara belum bersifat produktif yang dapat menghasilkan karya besar dan memberi kontribusi bagi peradaban Islam modern. (7). Mengupayakan penghapusan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang masih menghimpit sebagian masyarakat Asia Tenggara.

Problema Dunia Pendidikan Kita

Secara garis besar kualitas pendidikan kita masih belum mencaapai apa yang kita harapkan. Peringkatnya masih di bawah perguruan tinggi-perguruan tinggi sekuler. Kelambanan peningkatan kualitas tersebut diakibatkan antara lain.

Pertama. Perumusan kurikulum pendidikan kita belum dapat mengantisipasi cepatnya tantangan dan transformasi sosial serta ilmu pengetahuan, termasuk perubahan situasi politik dan pengelolaan pemerintahan di masing-masing negara.

Kedua. Komersialisasi pendidikan lebih menonjol daripada visi bahwa pendidikan itu sebagai transmisi ilmu dan transfer ilmu pengetahuan sebagai jalan satu-satunya pengembangan sumber daya manusia dan daya saing bangsa. Hal ini diperparah uleh kecenderungan materialistik dan pragmatisme masyarakat, termasuk insan pendidikan yang menjadikan tugasnya sebagai tugas sampingan (‘nyambi’) di samping kegiatan mencari “tambahan penghasilan lainnya”.

Ketiga. Kualitas tenaga pendidik yang sangat rendah akibat tidak tersedianya kesempatan yang cukup untuk mengembangkan keahlian dan skiilnya serta kurangnya karakter peneliti di kalangan sebagian besar tenaga pendidik kita.

Keempat, tingkat keterpelajaran masyarakat yang masih rendah menyebabkan sedikitnya kontribusi masyarakat dan lingkungan pendidikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada.

Kelima. Lemahnya kokritisasi ilmu pengethuan dalam pengembangan peradaban dan kesejahteraan umat manusia, akibat rendahnya budaya eksperimen di dunia pendidikan kita.

Faktor-faktor itu menyebabkan para lulusan dunia pendidikan kita menjadi gamang dalam memainkan perannya sebagai agen perubahan di era global serta lemahnya kemampuan mereka dalam sosial engineering atau penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteran umat manusia.

Pada saat yang sama juga ilmu pengetahuan yang mereka miliki kurang aplicable dan berfungsi bagi peningkatan taraf hidup dan pengembangan masyarakat.[8]

Problema-problema pendidikan tersebut juga dibarengi dengan menurunnya kualitas moral akademik dunia pendidikan kita yang meneyebabkan tujuan hakiki dari pendidikan itu belum tampak pada kehidupan dunia pendidikan dan sebagian masyarakat Asia Tenggara.

Secara garis besar ada empat unsur yang terpenting dalam pembangunan pendidikan Islam Asia Tenggara. Pertama. Materi keilmuan yang ingin ditransfer. Kedua, tenaga pengajar (dosen) sebagai pihak pentransfer. Ketiga. Murid atau mahasiswa sebagai penerima transfer ilmu. Keempat, sarana-sarana yang digunakan dalam kegiatan transfer tersebut. Keempat unsur ini selayaknya menjadi pusat perhatian forum kerja sama perguruan tinggi Islam Asia Tenggara dalam membangun pendidikan di kawasan ini.

Materi keilmuan yang ditransfer adalah ilmu pengetahaun yang benar (Islam). Di sini tidak dikenal adanya dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Dengan demikian setiap informasi keilmuan adalah ilmu pengetahuan Islam yang diajarkan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Dalam perspektif ini dikenal adanay wahyu Tuhan dalam bentuk kitab (The Word of God = Kalâmullah), wahyu Tuhan yang terjadi (The Work of God= fi’lullâh), baik di alam sekitar maupun pada diri manusia itu sendiri.[9]

Sementara itu profesi kehidupan tertinggi dalam perspektif Islam adalah pengajar (dalam arti yang luas), sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Jadilah kamu sebagai guru atau murid atau pendengar atau simpatisan, jangan kamu menjadi yang kelima yang akan menyebabkanmu binasa”. (al-Hadîs).

Posisi strategis ini tidak hanya dimiliki profesi keguruan, tetapi aktivitas transfer ilmu untuk setiap bidang kehidupan. Oleh karenanya institusi pendidikan hendaknya menjadi teladan, dan untuk itu ia layak mendapat penghormatan ( dari Allah dan manusia).

Kegiatan mencari ilmu haruslah dengan penuh kesungguhan (jaddun). Oleh karenanya seluruh kegiatannya merupakan fi sabilillah. Karena aktivitas ini merupakan fi sabilillah, maka kegiatannya pun harus didasarkan pada niat yang baik dan ikhlas (liyatafaqqahu fiddin).

Dengan demikian sarana yang digunakan dalam pendidikan (gedung, referensi, busana, media), haruslah baik, halal, dan sesuai standard, agar efektif untuk mencerdaskan dan memperbaiki budi pekerti.

Unsur-unsur penting yang tidak memenuhi standart akan berakibat pada kegiatan pendidikan yang tidak efektif atau pendidikan yang hanya bisa mencerdaskan, tetapi tidak dapat membangun integritas kepribadian islami, seperti diharapkan dalam pendidikan.

Bertitik tolak dari analisis di atas, maka kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan Islam adalah kehandalan dalam hal Intellectual Quation (IQ), Emotional Quation (EQ), dan Spiritual Quation (SQ), dengan ciri-ciri sebagai berikut:

§ Memiliki penguasaan ilmu yang mumpuni dan kemampuan mengintegrasikan ulûm al-naqliyah dan ulûm al-aqliyah, serta konkritisasinya di tengah kehidupan yang nyata.

§ Memiliki kemahiran hidup (living skills), sehingga para lulusannya mempunyai sifat mandiri (self relience) yang tinggi tanpa tergantung sepenuhnya kepada pihak lain.

§ Memiliki tauhid yang benar sebagai kerangka dasar (Welstanchaung) dalam memandang hidup dan setiap permasalahan.

§ Memimiliki keluhuran moral, kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.

Persoalan domestik Perguruan Tinggi Islam Asia Tenggara

Lembannya perkembangan perguruan tinggi Islam Asia Tenggara juga diakibatkan oleh berabagai problema domestik perguruan tinggi-perguruan tinggi yang kita dimiliki, di antaranya. Pertama. Kurangnya daya baca terhadap perkembangan informasi ilmu pengetahauan. Kedua. Kurangnya penjelajahan dan kemampuan mengakses informasi ilmu pengetahuan. Ketiga. Rendahnya kualitas SDM dan minat melakukan riset di kalangan tenaga penbdidik perguruan tinggi Asia Tenggara

Keempat. Memudarnya tradisi dialogis di lingkungan perguruan tinggi Asia Tenggara. Kelima. Konstruksi produk yang monolitik, terbatas hanya lulusan. Keenam. Belum terciptanya academic atmosfer yang sesungguhnya di kampus-kampus kita. Ketujuh. Belum terbangunnya networking yang penuh keakraban antar perguruan tinggi Islam di Asia Tenggara. Kedelapan. Profesionalisme tenaga pengaajar yang belum terbangun. Kesembilan. Tidak tegaknya moral akademik dan jati diri akademisi Asia Tenggara. Kesepuluh. Terbatasnya sarana dan fasilitas yang dimiliki perguruan tinggi Islam bila dibanding dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang bersifat umum.

Selain melihat problema domestik perguruan tinggi Islam Asia Tenggara, diperlukan analisis mengenai potensi yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi Islam yang ada. Pertama. Tradisi dialogis para intelektualnya sebagai salah satu penggerak perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua. Jumlah Perguruan tinggi yang terus bertambah. Ketiga. Adanya tradisi scientifik oriented dan intelektualisme akademisi Asia Tenggara. Keempat. Kosmopolitanisme para tokoh dan para ahl;i yang terdapat di perguruan tinggi Islam Asia Tenggara. Kelima. Adanya watak komunikatif atau relationship yang menjadi tradisi para ahli di kawasan searantau ini. Keenam. Penghargaan yang tinggi pada ilmu pengetahuan dan para ilmuan, Ketujuh. Semakin terciptanya reading nation yang akomodatif sehingga percepatan keterpelajaran masyarakat Asia Tenggara akan semakin cepat tercapai.

Upaya Pemberdayaan Perguruan Tinggi Melalui Kerja Sama

Untuk meningkatkan kemampuan perguruan tinggi sebagai lembaga penggerak perubahan dan pencerahan bagi masyarakat Asia Tenggara dalam menghadapi dan melakoni globalisasi dengan tetap berpegang teguh pada agamanya, maka upaya-upaya pemberdayaan perguruan tinggi yang mungkin dilakukan melalui kerja sama antara lain:

Pertama. Meningkatkan upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar kaum terpelajar Asia Tenggara rnemiliki keunggulan komparatif dan kernpetitif di kancah global. Ini dapat dilakukan melalui pertukaran dosen (tenaga pengajar), pertukaran mahasiswa, joint research, joint publication, dan lain-lain.

Kedua. Melakukan gerakan bersama untuk merevitalisasi kegiatan akademik sehingga tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan perguruan tinggi Asia Tenggara dapat mengikuti, jika bukannya sejajar dengan perguruan tinggi lainnya di dunia. Ketiga. Setiap kampus perguruan tinggi Islam Asia Tenggara perlu teruis menggelorakan academik atmosfer. Keempat. Melembagakan studi masa depan pada institusi-institusi pendidikan kita, baik formal maupun informal.

Kelima. Menghilangkan pandangan dikomotis tentang ilmu pengetahuan dan kehidupan. Keenam. Mengakses puncak piramida revolusi informasi, dan jika mungkin memimpin proses penggunaannya. Ketujuh. Meningkatkan kualitas SDM perguruan tinggi Asia Tenggara, baik keunggulan ilmiah, keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Kedelapan. Membangun jaringan (networking) perguruan tinggi Asia Tenggara yang kuat dan dinamis sehingga asetiap pemenuan para ahli dapat diakses dan disosialisasikana di setiap neagara. Pada saat yang sama dapat memberi spirit bagi para akademisi lainnya.

Dalam hal ini terlihat betapa strategisnya peran Souteast Asian Forum For Islamic Higher Education, (dan lembaga-lembaga lain) yang saat ini melakukan berbagai pertemuan dan kegiatan untuk membangun keberdayaan perguruan tinggi Islam Asia Tenggara.

Kesembilan, setiap perguruan tinggi Islam perlu terus menerus berusaha secara sungguh-sungguh untuk penegakan moral akademik. Seabab dalam perseep[ektif Islam pencaapaian pengetahuan yang tinggi dan diridhoi Allah hendaklah dengan menempatkan moral di atas ilmu. (al-adabu fauqa al-‘ilm).

Peran Pemberdayaan Masyarakat

Adalah sangat menarik bahwa dalam penilaian mutakhir, keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi hanya diukur dari sudut keberhasilannya mencetak lulusan dan karya-karya ilmiah teoritis yang mereka hasilkan, tetapi juga dilihat dari arti dan pengaruh keberadaannya bagi masyaraakat di sekitarnya. Untuk itu maka salah satu agenda kerja sama perguruan tinggi Islam Asia Tenggara adalah meningkatkan kemampuan perguruan tinggi dalam memberdayakan (empowering) masyarakat di sekitarnya. Usaha-usaha tersebut antara lain.

Pertama. Perguruan Tinggi hendaknya mampu meyakinkan umat Islam bahwa kemajuan yang dicapai umat manusia saat ini adalah milik bersama umat manusia, di mana umat Islam turut memiliki kontribusi di dalamnya. Kedua. Melakukan revitalisasi dan modernisasi agama dalam berbagai aspeknya. Ketiga. Menegaskan makna dan hakekat nilai kemanusiaan dan kehidupan manusia. Keempat. Memberikan daya banding kepada umat Islam agar mereka tidak 'gugup' atau kaget berhadapan dengan kehidupan global.

Kelima. Menampilkan keberagamaan yang lebih sejuk dan ramah, berdasarkan pemahaman terhadap nilai-nilai universal yang di ajarkan Islam dan teologi inklusif sebagaimana diperankan nabi Muhammad SAW.

Keenam. Pendidikan perlu diarahkan bagi penumbuhan kepercayaan diri umat Islam. Ketujuh. Menghidupkan visi ekonomi dan'teologi komersial' di kalangan umat Islam. Kedelapan. Menghilangkan teologi kemiskinan dari tubuh umat Islam. Kesembilan. Menumbuhkan ukhuwah islamiyah yang lebih universal dan mencakup berbagai segi kehidupan umat Islam. Kesepuluh. Mengupayakan penghapusan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang saat ini masih menggurita banyak masyarakat Asia Tenggara.

Penutup

Analisis di atas memperlihatkan betapa kompleksnya tugas perguruan tinggi Islam Asia Tenggara baik dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam pencerahan dan pemberdayaan masyarakat agar mereka tidak gamang dalam menjalankan hidup di era globalisasi, yang sesuangguhnya tengah mereka jalani.

Dalam menjalankan tugas berat dan mulia ini perguruan tinggi manapun tidak akan dapat melakukannya secara sendiri-sendiri melainkan dengan kerja sama dan berbasis jaringan.

Dengan demikian kerja sama yang lebih erat dan produktif di masa yang akan datang tidak sekedar kebutuhan lokal dan bersifat sesaat tetapi menjadi kebutuhan kollektif dan bersifat strategis serta jangka panjang. Itulah yang menjadi tugas kita semua untuk hadir di sini. Wa Allâhu A’lamu bi al-Shawâb.



[1] Lihat, Joseph R. Strayer Hans W. Gatzke, The Mainstream of Civilization, (New York: HarcourtbBrace Jovanovich Publisher, 1984. Lihat pula, Osman Bakar, Islam and Civilizational Dialog, (Kuala Lumpur: University of Malaya Press, 1977. Syahrin Harahap, Al-Qur’an dan Sekularisasi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997).

[2] Lihat Syahrin Harahap, Islam Dinamis, (Yoyakarta: Tiara Wacana, 1998).

[3] Situasi baru dunia itu senantiasa menjadi pusat perhatian para ahli ketika membicarakan bagaimana setiap komunitas harus mengantisipasi atau menjadi pemain utama dalam globalisasi dunia itu. Antara lain lihat Syahrin Harahap, Islam dan Modernitas: Membangun Kesalehan Modern, (IAIN Press, 2009).

[4] Victor Frankl, Psychotherapy Existensialism, (Penguin Books, 1973). Lihat pula Hanna Djumhanna, “ Dimensi Spiritual Dalam Psikologi Kontemporer” dalam, ‘Ulûm al-Qur’ân, No. Vol. V 1994), hlm. 18-19.

[5] Syahrin Harahap, Islama dan Modernitas.

[6] Akbar S. Ahmed, Discovering Islam: Making Sense Of Muslim History and Society, (London and New York: Routledge 1990), Hal. 8

[7] Cara beragama seperti ini akan membuat umat Islam dapat memimpin (spiritualitas) kehidupan global dengan tetap meneladani kehidupan Rasulullah Saw. Lihat Syahrin Harahap, ‘Menumbuhkan Cara Beragama Moderat’ makalah pada Dialog Antariman tingkat internasional di Sumatera Utara, Maret 2009.

[8] Hampir semua komponen masyarakat dan user keluaran dunia pendidikan kita merasa adanya kelemahan para lulusan dari sudut konkritisasi ilmu pengetahuan bagi kebutuhan dan problema kehidupan. Hal ini antara lain disebabkan para tenaga pendidik yang berdiri di menara gading, menyampaikan rumus dan formula, tanpa peranah melihat apakah rumus dan formula yang diajarkan link dan match dengan kebutuhan para pengguna (user).

[9] Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, Al-‘Urwat al-Wusqâ.